PERNAH! 

Aku pernah menjadi kuat, 

Sebelum akhirnya jatuh dihadapan orang yang salah.

Mempercayakan rajutan mimpi untuk digenggam bersama. 

Lalu sekejap waktu dirusak dengan sengaja. 
Harap yg dulu dibangun perlahan

Dipatah hanya dengan satu kalimat; 

“Pergilah! Kita berbeda”

Brengsek bukan? Haha
Celoteh perihal 

“karma must apply to anyone”

Menjadi sangat familiar, 

Terdengar layaknya hanya itu yg mampu mereka ucapkan. 

Sayangnya itu sama sekali tak membantu,

Lebih tepatnya kalimat itu justru membuat ikhlasku mati perlahan. 
Di tengah luka yg kian menyakitkan, 

Aku kian menyukai mereka yg datang lantas berkata; “Tenanglah! Tuhan bersamamu”

Kalimat itu, Adalah penenang terindah untuk kening yg ditinggal kecupan pada setiap pengantar tidurnya!

Advertisements

Tetaplah! (S.E.N.I.O.R II)

Benar saja,

Kau pernah mengingatkan

Perihal tak ada dimensi yg sama. 

Katamu :

“Setiap dari kita memiliki dimensinya masing-masing. Jangan menyamakan masa antara kau, dia, ataupun mereka”


Pada rumah kecil yang berdinding harapan dan beratap ambisi, 

Kau tak pernah sekalipun beranjak

Kau mengikuti setiap dimensinya dengan baik. 

Kau mengalahkan mereka yg penuh kesah


Beberapa kali aku merasa iri melihatmu

Kau tak pernah meluka meski di gores

Kau tak pernah beranjak meski di abai

Kau tak pernah seklipun melupa


Tetaplah tinggal

Tetaplah menjadi dirimu-

Yang seringkali memancing amarah sesaat lalu mencipta canda. 

Tetaplah memberi tawa. 

Tetaplah menjadi senior, kakak juga teman untuk para pemilik rumah tempatku mengenalmu! 

AKHIR


Pada akhirnya kamu hanyalah salinan kata dari aksara-aksara Rindu yg aku baca.

Goretan-goretan pena yg kutuliskan di buku kecil. 

Yang tak jarang menyisakan lelehan di kedua ujung mata.

Aku bisa merasakannya, menulisnya, membacanya namun tak bisa menuntaskannya.


Engkau riang berada diluar jangkauku

Sedang aku meradang tak menjangkaumu. 

Lisanku acap kali mengucap Rindu namun tak pernah berani menyampaikannya. 

Aku terlampau takut jatuh.


Pada sebaris serapah, ada jiwa yg pasrah. 

Menjelma menjadi ragu

Di penuhi lara yg tak berkesudahan. 

Aku menghimpun tanya perihal engkau yg diam-diam menyeludupkan setumpuk harap padaku.

Lalu kemudian menghancurkannya sekejap waktu.


Di satu waktu, kau akhirnya bicara. 

Katamu: jangan berharap, aku tak ingin membuatmu berharap.

Aku lantas tersadar bahwa aku jatuh pada pengharapan yg tak pernah kau niatkan untukku. 

Tawaku pecah tiap kali mengingatnya. 

Menyadari betapa aku yg salah telah menjatuhkan harap. 

Maaf harus merepotkanmu dalam rasa ini. 

Dan… Jangan merasa bersalah karna ini salahku!! 

LUKA

Betapa harapku telah sangat kau lukai tuan!

Tuan! Aku terluka. 

Lagi dan lagi karna memikirmu

Jatuh pada pengharapan yg kau tabur namun tak ingin kau rawat.

Pada kubangan mimpi yg kau cipta namun perlahan kau taburi duri. 

Ada apa tuan? 

Mengapa memberiku harap jika tak mengharapku? 

Mengapa menabur rasa jika tak memetik? 

Mengapa meleburkan kasih jika tak memungut? 

Tuan! Aku akan memberi tahu sesuatu. 

Kau tahu tuan, kau sukses. 

Sukses membuatku menggantung lagi harap yg pernah aku lemarikan

Sukses membuatku melukis angan yg terbentang luas. 

Sukses membuatku jatuh pada rasa yg melara.

Dan sukses membuatku kembali pada luka yg kau sembuhkan dulu. 

Tuan! Ingin ku mengucap rasa terimakasih. 

Karna telah mengenalkanku kembali pada luka terhadap pengharapan yg terlampau jauh.

Benar katamu dulu tuan! 

Aku memang terlalu bodoh menaruh harap pada mereka yg pengecut! 

Lukamu

Entah separah apa lukamu!

Kemarin, entah kenapa kau tiba-tiba mengajakku untuk datang ke tempat ini. 
Menyaksikan senja yg perlahan hilang dalam gelap. 
Engkau sama sekali belum mengajakku untuk berbicara bahkan kau tak menatapku meski hanya sekejap.

Lama sekali kau tak bergeming dan hanya menatap… tak seperti biasanya. 
Seketika itu aku tak melihatmu seperti yg ku kenal sebelumnya.
Engkau Diam dan hanya diam hingga gelap mangantar sang senja untuk pergi.

Kau masih saja diam seakan menginginkan untuk sendiri, menatap kosong tanpa batas. 
Ingatanku masih sangat kuat saat kau melepas genggaman mu ketika aku mengajakmu untuk mengantar senja.

Saat itu kau hanya berkata; “pergilah! Aku tak suka mengantar senja karna aku tak ingin melihat sebuah perpisahan!”

Lalu saat ini engkau mengajakku mengantarnya tanpa memperkenalkanku pada senjamu. 
Engkau tenggelam dalam gelap dipenghujung cahaya senjamu.
Engkau memilih sembunyi tanpa melihat cahaya yg aku sisipkan di sudut senja yg juga kukatakan milikku.
Entah apa yg akhirnya mengusikmu hingga datang ketempat ini.
Engkau seolah mengingat luka yg kau sembunyikan selama ini yang bahkan kau tak ingin jika aku menyentuh luka itu sedikitpun.

Cukup Hari ini!

Jendelanya masih belum kau tutup

Kau masih saja menduduki kursi itu

Menatap kosong entah kemana

Mendengarkan entah suara apa. 

Matamu masih saja sama seperti dahulu

Menyimpan luka entah karna apa. 

Senyummu masih saja palsu, 

Dan tawamu… Masih penuh sandiwara. 

Kau masih menduduki kursi itu

Menyendiri dalam sepi yg kau jadikan benteng

Menangis dalam luka yg kau balut

Dan berteriak dalam kenangan yg kau kutuk. 

Kau ternyata masih tak berubah

Kau masih tertinggal jauh dibelakang

Sekali lagi aku ingin mengatakannya

Menangislah, terlukalah dan menyendirilah.

Tapii….Aku tidak ingin melihatnya lagi di fajar yg datang esok.

SUDAH! 

Ada tanya yg terus mengusik

Yg tak henti-hentinya bergulir tanpa jeda. 

Untuk apa kau memberiku harap jika kau memilih pergi? 

Untuk apa kau memberiku senyum jika akhirnya kau bubuhi duka? 

Dan untuk apa kau menumbuhkan rasa jika akhirnya menggores luka? 

Tak pernah ada jawab yg ku temui

Tanya itu justru terus memberiku beban yg makin berat

Melukaiku yg benar-benar terluka

Tanya itu terus menelisik di kepalaku

Kadang membuat pusing

Kadang terasa lucu

Bahkan kadang memuakkan

Sungguh kali ini aku benar-benar menyerah untuk menemui jawab. 

Karna semakin ku mencari semakin aku memiliki tanya yg lain. 

Saat ini ku biarkan saja tanya itu terus menyiksa. 

Membiarkannya melalap habis jawab yg ada hingga hanya tersisa tanya yg akan lebur seiring waktu. 

SANG PENUNGGU


Hari ini hujannya lebih lama

Hampir tak ada jeda untuk burung yg ingin pulang membawakan makanan pada anaknya

Hampir semua tak ingin keluar dari rumah mereka yg hangat

Perapian di rumah bahkan tak berhenti menyala
Sudah malam tapi hujannya masih turun

Seolah memberikanmu waktu yg panjang untuk menikmati hangatnya teh dan kue buatan ibu

Memintamu mendengarkan suara hujan yg jatuh ke tanah

Menikmati setiap tetesnya di jendela kecilmu
Tapi tunggu…. Ada wanita kecil itu lagi diseberang sana

Hampir tak terlihat karna ditutupi payung besarnya

Sesekali payungnya ia tahan dengan dua tangan mungilnya 

Kali-kali payungnya terbang terbawa angin
Seperti biasa wanita itu tampak sedang menunggu sesuatu

Menengok kiri dan kanan entah mencari siapa 

Dia tampak kedinginan diluar sana sendirian

Tatapan matanya kosong

Raut mukanyapun menunjukkan betapa ia bersabar menunggu
Hujannya semakin deras tapi dia masih disana

Tak bergeming sedikitpun 

Sesekali Ia membiarkan tangannya di Jamah hujan

Memainkan kakinya pada genangan air
Beberapa waktu Ia terlihat menerima telpon

Ia tampak mengehela nafas yg panjang 

Raut mukanya berubah

Ia berbalik arah

Tampaknya Ia kembali tak menemui apa yg ia tunggu.

LUPA (1)

Ada hal yg kulupakan tentang kita.. 

Tentang mata yg beradu namun tak mengadu

Tentang bibir yg berucap namun tak mengecup

Tentang kaki yg mengiring namun tak membimbing

Tentang tangan yg memegang namun tak menggenggam

Dan tentang hati yg berpaut namun tak menyambut.

Benar, aku lupa bahwa kita tak memiliki rasa yg sama!!

S.E.N.I.O.R

Ada yg tak pernah berubah dari engkau

Tatapan penuh gembira yg melekat

Senyuman ramah yg tak beranjak

Serta genggaman tangan yg tak pernah lepas. 
Pernah sekali kau mendapatiku

Menangis dalam kecewa

Sakit dalam ragu yg tak berkesudahan

Dan teluka dalam amarah

Kau menepuk pundakku berulang kali

Mengingatkan aku perihal jalan yg memang tak selalu lurus
Satu ketika aku lagi-lagi diserang kecewa

Aku lagi-lagi terkubur dalam ragu

Dan aku lagi-lagi berniat untuk pergi. 

Lalu kau kembali mengingatkanku

Bahwa betapa rumah adalah tempat nyaman untuk kembali

Kau bilang: Ini rumahmu, aku tak pernah memaksamu tinggal tapi pulanglah sesering kau bisa, karna rumahmu memang tempat mu pulang. 
Kau tahu persis cara meredam kecewa

Kau tahu cara membuatku tetap tinggal

Menempati rumah yg memperkenalkanku sosokmu

Sosok pemimpin yg lupa arogan

Sosok kakak yg tak memiliki ego

Dan sosok senior yg tak tau menyalahgunakan kuasa. 
Aku bilang; 

Kau adalah rentetan waktu yg tak pernah usang

Angka yg tak terhitung

Tongkat yg tak lapuk

Kata yg tak terucap

Dan berharap engkau tetap seperti itu!!