SANG PENUNGGU


Hari ini hujannya lebih lama

Hampir tak ada jeda untuk burung yg ingin pulang membawakan makanan pada anaknya

Hampir semua tak ingin keluar dari rumah mereka yg hangat

Perapian di rumah bahkan tak berhenti menyala
Sudah malam tapi hujannya masih turun

Seolah memberikanmu waktu yg panjang untuk menikmati hangatnya teh dan kue buatan ibu

Memintamu mendengarkan suara hujan yg jatuh ke tanah

Menikmati setiap tetesnya di jendela kecilmu
Tapi tunggu…. Ada wanita kecil itu lagi diseberang sana

Hampir tak terlihat karna ditutupi payung besarnya

Sesekali payungnya ia tahan dengan dua tangan mungilnya 

Kali-kali payungnya terbang terbawa angin
Seperti biasa wanita itu tampak sedang menunggu sesuatu

Menengok kiri dan kanan entah mencari siapa 

Dia tampak kedinginan diluar sana sendirian

Tatapan matanya kosong

Raut mukanyapun menunjukkan betapa ia bersabar menunggu
Hujannya semakin deras tapi dia masih disana

Tak bergeming sedikitpun 

Sesekali Ia membiarkan tangannya di Jamah hujan

Memainkan kakinya pada genangan air
Beberapa waktu Ia terlihat menerima telpon

Ia tampak mengehela nafas yg panjang 

Raut mukanya berubah

Ia berbalik arah

Tampaknya Ia kembali tak menemui apa yg ia tunggu.

Advertisements

LUPA (1)

Ada hal yg kulupakan tentang kita.. 

Tentang mata yg beradu namun tak mengadu

Tentang bibir yg berucap namun tak mengecup

Tentang kaki yg mengiring namun tak membimbing

Tentang tangan yg memegang namun tak menggenggam

Dan tentang hati yg berpaut namun tak menyambut.

Benar, aku lupa bahwa kita tak memiliki rasa yg sama!!

S.E.N.I.O.R

Ada yg tak pernah berubah dari engkau

Tatapan penuh gembira yg melekat

Senyuman ramah yg tak beranjak

Serta genggaman tangan yg tak pernah lepas. 
Pernah sekali kau mendapatiku

Menangis dalam kecewa

Sakit dalam ragu yg tak berkesudahan

Dan teluka dalam amarah

Kau menepuk pundakku berulang kali

Mengingatkan aku perihal jalan yg memang tak selalu lurus
Satu ketika aku lagi-lagi diserang kecewa

Aku lagi-lagi terkubur dalam ragu

Dan aku lagi-lagi berniat untuk pergi. 

Lalu kau kembali mengingatkanku

Bahwa betapa rumah adalah tempat nyaman untuk kembali

Kau bilang: Ini rumahmu, aku tak pernah memaksamu tinggal tapi pulanglah sesering kau bisa, karna rumahmu memang tempat mu pulang. 
Kau tahu persis cara meredam kecewa

Kau tahu cara membuatku tetap tinggal

Menempati rumah yg memperkenalkanku sosokmu

Sosok pemimpin yg lupa arogan

Sosok kakak yg tak memiliki ego

Dan sosok senior yg tak tau menyalahgunakan kuasa. 
Aku bilang; 

Kau adalah rentetan waktu yg tak pernah usang

Angka yg tak terhitung

Tongkat yg tak lapuk

Kata yg tak terucap

Dan berharap engkau tetap seperti itu!! 

Pengakuan!

IMG_20160707_094629

Pada akhirnya saya harus mengakuinya

Mengakui bahwasanya.. “Saya Rindu”

Ada benteng yang kian membatasi kita

Menjadikan kita asing dalam rengkuhan kisah

 

Aku tak pernah mempermasalahkan jarak yang terbentang

Aku juga tak pernah mempermasalhkan tentang kau yang telah bersamanya

Hanya saja aku sedikit kecewa tatkala mendapati engkau yang kian berubah

Kau semakin membesarkan egomu

Membiarkannya menguasai nuranimu

 

Aku mendapati kau bukan kau yang kukenal dulu

Aku mendapati kau menjadi wanita yang kian dipenuhi arogansi

Aku mendapati kau menjadi budak egomu

Dan aku mendapati kau perlahan membakar kenangan akan kisah kita

 

Lagi…aku lagi-lagi dibuat kecewa

Mendapati kau yang tak pernah ingin kukecewakan menatapku penuh amarah

Kau takut bila kuganggu bahagiamu

Kau takut bila kuubah warna barumu

Kau takut bila kurenggut kisah barumu

 

Sekarang aku paham..

Aku memang harus pergi

Membiarkanmu menemukan sahabat-sahabat barumu

Dan aku…akan mengubur kisah kita dibalik tembok itu

Berbahagialah, Aku Pergi!!!!

Perihal Ki-ta

IMG_5650.JPG

Perihal kita yg akhirnya tak memiliki akhir yg bahagia. Aku masih sangat ingat bagaimana kau menjadikan aku bintang yg paling terang di antara bintang yg lain, menjadikan aku rumah tempatmu pulang dan menjadikanku bahu tempatmu bersandar.

Lalu suatu hari di bulan agustus, aku tiba-tiba seperti mendapat sebuah serangan bertubi-tubi.
Menerima sebuah pesan singkat namun melukai hati.

Kau tahu dari siapa? Dari seorang gadis.

Kau tahu apa isi pesannya? Dia bilang: Kamu merebut dia dari aku!

Lalu dengan lugunya aku hanya tersenyum dan mengabaikannya karna aku mempercayaimu.

Dan dihari yg lain aku bertemu dgn gadis itu, dia cantik dan aku suka.
Dia banyak bercerita tentangmu dan aku tahu aku memang bukan satu-satunya.

Kenapa aku baru menyadarinya, apa karna aku yg terlalu bodoh atau kamu yg telalu pandai?

Kala itu kau dengan tanpa rasa bersalah menyembunyikan dia di belakangku.
Kau Membubuhiku dengan ribuan kalimat manis yg meluluhkan dan menjatuhiku dengan Cinta yg seolah tak ada habisnya untuk membuatku tak bisa tanpamu.

Kau tahu? Saat itu aku hancur, aku remuk dan aku… Menangis.

Namun dengan bodohnya aku kembali berharap itu hanya sebuah kebohongan, dan sebuah masalah kecil yg akan berlalu secepatnya.
Dengan bodohnya pula aku berharap kisah kita seperti kisah antara Rangga dan Cinta yg dipisahkan puluhan bahkan ratusan purnama namun kembali pulang di purnama yg mulai meredup.

Sayangnya kisah kita akhirnya akan menjadi kisah seperti Dilan dan Milea yg sepertinya tak akan terpisah namun di akhir cerita menjadi asing satu sama lain.

Menjadi kisah yg akhirnya saling menyakiti dengan bangunan mimpi-mimpi yg akhirnya runtuh (atau mungkin hanya aku yg terluka)
Dan menjadi kisah yg akhirnya menyisakan luka tak pernah kering dengan sempurna.

Terimakasih untuk kenangan yg terukir, terimakasih untuk waktu yg luang dan terimakasih untuk luka yg merepotkanku sampai saat ini.

Mirha
Mei 2017(dibawah atap didepan tembok)

Perempuan dibalik penantiannya

IMG_20170503_054207_914-1

Perihal perempuan yg tak pernah berani menatapmu sedalam rindu. mungkin kau lupa, bahwa perempuan berkudung coklat yg kau sebut sii kaku itu adalah perempuan yg berani merajam rasa hanya untuk menunggu kau menggenggamnya dalam ikatan yg direstui Tuhan. 

Dia menunggumu setiap hari diujung senja,  berharap kau datang menjemputnya lalu mengajaknya berjalan menapaki aspal menuju mesjid.

Dia masih menantimu di subuh yg dingin,  berharap kau datang membisikkan salam dan mengajaknya melantunkan ayat-ayat alquran.

Dia masih juga menantimu di ujung malam menuju pagi.  Berharap kau dtang mengantar pesan untuk bersujud pada Sang Pencipta di seperdua malam.

Diujung senja itu dia terus saja bersembunyi di balik rasa yg membunuhnya,  memendam luka yg enggan mengering lalu merangkai rasa sebagai obat penahan luka.

Mirha

Negeriku!!

Negeriku…Negeriku semakin ngeri,
Bulu kuduk berdiri karena wayang mulai bertindak sana-sini
Ini bukanhanya tentang negeriku yang kian menakutkan,
Tapi juga tentang hak-hak yang terampas dari tangan sendiri
dan tentang tanah tempat berpijak yang kian menjadi asing.

Ada apa dengan negeriku ini?
Anjing-anjing bertahta dan tikus berdasi duduk di singgasana mewahnya,
Menonton dan tersenyum puas tanpa rasa bersalah.
Menyodorkan sembako hanya pencitraan yang dengan bangga mereka umumkan.

Dan lihatlah! Disana para bandot-bandot tua itu
Mereka sedang tertawa riang bersama wanita-wanita berbikininya.
mempertontonkan kebejatannya dengan kepala yang mendongak.

Ada apa dengan negeriku ini?
Saling membantai satu sama lain memperebutkan jabatan,
dan bahkan menelanjangi negeri sendiri lalu menggadaikannya bak ikan asin sambil bersorak mengatas namakan persahabatan.

Menyalahgunakanpolitik secara ramai dengan pelbagai taktik
Pengacara tereduksi sebatas calo perkara yang menerima kasus semata karena imbalan.
Putusan hakim yang bisa menjadi komoditi diserahkan kepada penawar tertinggi.
Bahkan profesi penegak hukum yang begitu terhormatpun berevolusi menjadi pengumpul upeti.

Dimana negeriku yang dulu diperjuangkan oleh rakyat selama 360th?
Dimana negeriku yang dulu menjadi harga mati untuk diperjuangkan?
Dimana negeriku yang dulu kaya akan pohon-pohon pencakar langit?
Dimana negeriku yang dulu?
Negeri yang diperjuangkan dengan keringat dan darah,
negeri yang dibangun atas pondasi keringat dan darah
dan dimana negeri yang lahir darisebuah kesatuan.

Kepergianmu

Malam! Hahaha iya malamku kini semakin larut,meninggalkan senja dikala itu.

Malamku kini semakin larut , Beranjak naik menyongsong harmoni semesta

malamku kini semakin larut, malam yang tak sesempurna dulu

Saat kursi dipojok sana masih kau duduki,

 

Mataku tak henti-hentinya menatap sendu saat kau seakan terhipnotis oleh keindahan langit malam

Masih sangat jelas saat dengan senyum manismu kau berucap

“Akan ada waktu aku hanya bisa melambaikan tangan dari atas sana, menjagamu dari jauh dan menyinarimu dengan ribuan cahaya yang tak akan kau kenali”

Dan kini kau membuktikan kata-kata itu,

kau pergi dan tak kembali, lebih tepatnya tak akan mungkin kembali.

 

Akan terdengar lucu, tapi memang benar kepergianmu seolah membawa separuh kehidupanku.

Kau seakan membawaku terbang jauh hingga membuatku susah untuk menemukan jalan pulang

Entah bagaimana lagi aku harus bersikap, hatiku telah memaksaku untuk tetap terdiam pada cinta yang kau tanamkan

Cinta yang kau tancapkan hingga mengakar dalam lubuk hati yang terdalam.

 

Kau pergi meninggalkan tangis, tangis yang sangat sulit untuk ku redam

Tangis yang menghabiskan sisa-sisa NACL dalam kantung mata

Kau telah berhasil menciptakan turbulensi dasyat untuk hidup sederhana yang kupunya.

kepergianmu juga telah berhasil membuat ukiran senyum di sudut bibir ini memudar.

Bahkan teriakku taklagi memiliki arti mungkin karna pondasi sakit yang tercipta terlalu kokoh hingga takbisa untuk aku robohkan.

 

Aku sadar mungkin keegoisanku sudah telalu akut hingga mengikhlaskanmu pun sudah terlalu sulit

Aku (juga) sadar bahwa keegoisanku tealah membuatmu tersiksa di alam sana, tapi percayalah itu hanya karna aku benar benar mecintaimu.

Jika boleh, aku ingin meminta sedikit waktu untuk menyusun keping-keping keikhlasan,

karna cinta yang kupunya bukan hanya sekedar cinta yang berangkat dari sebuah keegoisan, yang hanya ingin meminta tanpa memberi balasan.

Cinta yang kupunya adalah cinta yang tak beralasan, cinta yang tak memiliki ujung.

 

Mereka memang benar, aku harus tetap berjalan menapaki jalan jalan baru tanpa hadirmu

Meski menyisakan luka tapi seiring dengan waktu pasti takakan terasa sesakit ini. Bukankah luka akan sembuh seiring berjalannya waktu?

Ahhh sudahlah sayang!!

Lelaplah dalam tidurmu, semoga masih ada mimpi tentang kita, dan semoga waktu masih bersedia menyatukan kita di singgasana surga.!!!

HASMIRA,8 november 2015